Lima Kunci Kesuksesan Real Madrid Juara Liga Champions 2016/2017

1
468
Lima Kunci Kesuksesan Real Madrid Juara Liga Champions 2016/2017

Real Madrid akhirnya berhasil mematahkan mitos bahwa juara bertahan tidak pernah mampu mempertahankan gelar yang mereka raih di Liga Champions. El Real membuktikan bahwa mereka masih klub terbaik di Eropa pada musim 2016/2017.

BOLAKU88 – Pada laga final Liga Champions yang dilaksanakan di Stadion Millennium, Cardiff, Wales, Real Madrid menang telak dengan skor 4-1 atas Juventus, Minggu 4 Juni 2017 dini hari WIB.

Cristiano Ronaldo yang menjadi bintang dalam pertandingan Liga Champions dengan mencetak dua gol. Sementara, dua gol lainnya dicetak oleh Casemiro dan Marco Asensio. Gol hiburan bagi Juventus hadir dari gol salto cantik dari Mario Mandzukic.

BACA JUGA : Cuplikan Goal & Highlights Juventus 1 – 4 Real Madrid | 3/06/2017 Liga Champions

Kemenangan yang berhasil diraih Real Madrid tidak terjadi begitu saja. Tentu ada beberapa momen kunci yang menentukan kemenangan mereka. Ada pula beberapa pemain yang tampil hebat yang kemudian menjadi pembeda dalam laga ini.

Apa saja kunci penentu suksesnya Madrid di final Liga Champions ? Berikut 5 Kunci Kesuksesan Madrid di Final Liga Champions.

  1. Menguasai Lini Tengah

Juventus sebenarnya tampil lebih menjanjikan pada laga babak pertama. Asuhan Massimiliano Allegri ini mampu menghadirkan dua peluang berbahaya dari aksi Gonzalo Higuain dan Miralem Pjanic bahkan saat laga baru berjalan 15 menit.

Namun, justru Madrid sebenarnya yang tampil lebih dominan. Madrid menguasai 53 persen penguasaan bola. Selain itu, para pemain Madrid juga mencatatkan 92 persen umpan akurat, sementara kubu Juventus hanya memiliki tingkat akurasi umpan 82 persen.

Rupanya, ada dua pendekatan yang berbeda dari kedua tim pada babak pertama.

Juve lebih mengandalkan serangan dari sisi sayap, baik itu lewat Dani Alves maupun Alex Sandro. Keduanya kerap melepas umpan crossing dan salah satunya berhasil menjadi gol dari aksi Mandzukic.

2. Kehebatan Taktik Zidane

Babak kedua menjadi panggung bagi Zinedine Zidane untuk menunjukkan kepiawaiannya sebagai pelatih dalam membaca permainan. Pelatih asal Prancis ini mengubah pendekatan permainan yang ia lakukan pada babak pertama.

Berkaca dari gol Ronaldo di babak pertama, Zidane nampaknya sudah bisa membaca pola pertahanan Juve. Ada banyak celah di sisi sayap dan hal itulah yang coba di eksploitasi oleh para pemain Madrid. Luka Modric dan Isco yang punya kecepatan ditempatkan lebih ke sayap, sementara Kroos dan Casemiro bertahan di tengah.

“Pada babak kedua, saya ingin para untuk pemain dapat tampil lebih menekan dan saya juga ingin lebih memanfaatkan sektor sayap. Kami memainkan sepakbola kami, seperti yang biasanya kami lakukan,” kata Zidane usai laga.

Tiga gol Madrid yang tercipta di babak kedua, semua berawal dari sektor sayap.

Gol Casemiro, bermula dari Karim Benzema yang menyisir sayap dan memberikan bola pada Kroos. Tendangan kencang pemain asal Jerman mampu gagalkan pemain Juve dan kemudian disambar oleh Casemiro dari luar kotak penalti untuk menjadi gol.

Pola yang sama terjadi pada gol kedua Ronaldo dan gol Marco Asensio. Semuanya dimulai dari sektor sayap.

3. Cristiano Ronaldo

Mega bintang Real Madrid, Cristiano Ronaldo lagi-lagi memberikan bukti bahwa ia masih menjadi pemain paling penting bagi Madrid. Pemain asal Portugal ini sukses mencetak dua gol ke gawang Gianluigi Buffon.

Gol pertama Ronaldo memiliki arti penting bagi Madrid. Sebelum gol terjadi, Real Madrid terlihat lebih banyak berada dalam kondisi tekanan. Saat gol Ronaldo ini memberikan rasa percaya diri bagi para pemain Madrid untuk bisa mengimbangi permainan Juventus.

Gol kedua Ronaldo juga tidak kalah penting. Pemain berusia 32 tahun ini membuat kedudukan menjadi 3-1 dan secara pasti akan membuat mental Madrid semakin besar. Sebaliknya, dari gol ini membuat mental Gianluigi Buffon dan pemain lainnya menjadi luntur.

Ronaldo pun akhirnya terpilih sebagai Man Of The Match pada akhir pertandingan. Sebuah hadiah yang pantas diberikan jika melihat performa dan kontribusi dari Ronaldo.

4. Tidak Jelasnya Posisi Dani Alves

Dani Alves sebenarnya sangat diharapkan menjadi sosok kunci bagi Juventus di laga final Liga Champions. Alves punya rekam jejak yang sangat mentereng saat masih membela Barcelona di ajang Liga Champions.

Pengalaman yang ia dapatkan bersama Barca diharapkan bisa ditularkan pada skuat Juventus. Namun, kesalahan penempatan posisi Alves membuat perannya justru tidak maksimal.

Pada awal babak pertama, Dani Alves ditempatkan oleh Massimiliano Allegri sebagai seorang gelandang sayap, bahkan bisa disebut winger dalam formasi 4-2-3-1. Sementara posisi bek kanan ditempati oleh Andrea Barzagli.

Mantan pemain Barcelona ini memang banyak memberikan umpan-umpan silang, tapi naluri menyerangnya cukup monoton dan tidak banyak melakukan tusukan ke kotak penalti.

Allegri sempat memeindahkan Alves ke posisi bek kanan saat ia memasukkan Juan Cuadrado pada menit ke-66. Namun, pilihan ini seperti sudah terlambat karena saat itu Juve sudah tertinggal 1-3 dari Madrid. Apalagi, Cuadrado di kartu merah pada menit ke-83.

5. Ramos-Varane dan Serangan Monoton Juve

Setelah kecolongan gol dari Mario Mandzukic pada babak pertama, lini pertahanan Real Madrid bisa dibilang bermain dengan konsisten. Duet Sergio Ramos dan Raphael Varane mampu menjadi tembok bagi setiap serangan Juventus.

Seperti yang telah diulas sebelumnya, serangan Madrid akan lebih cenderung untuk mengandalkan serangan dari sisi sayap. Para pemain Juventus lebih sering melepas umpan crossing dibandingkan dengan memberikan umpan terobosan.

Lima Kunci Kesuksesan Real Madrid Juara Liga Champions 2016/2017

Tentu saja hal seperti itu begitu mudah diantisipasi oleh duet Ramos dan Varane. seperti Grafik di atas menunjukkan bangunan serangan Juventus yang lebih mengandalkan sektor sayap dengan skema umpan crossing.

Juventus sendiri memang tidak memiliki banyak opsi di lini tengah dalam membangun serangan. Miralem Pjanic yang diharapkan menjadi kreator serangan justru tidak berkutik melawan Casemiro. Dia gagal melepas umpan-umpan yang memudahkan Higuain mencetak gol.

Tidak ada umpan yang mengarah ke kotak penalti yang berhasil diberikan oleh Pjanic pada babak kedua. Pemain asal Bosnia itu bahkan harus diganti oleh Claudio Marchisio karena tidak bermain dengan efektif.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY